PENINGKATAN PRODUKSI PANGAN DALAM NEGERI

Indonesia menghadapi permintaan pangan yang luar biasa tinggi dalam 10-15 tahun terakhir, karena adanya pertumbuhan penduduk sebesar 1,5% per tahun. Peningkatan jumlah penduduk dan pendapatan masyarakat ini menuntut (ketersediaan) jumlah pangan yang lebih banyak dan berkualitas. Namun, dilain pihak, peningkatan jumlah dan kualitas produksi tidak bisa mengimbangi kebutuhan tersebut.

Akibatnya,kita mengimpor begitu banyak pangan untuk kebutuhan nasional. Dan, pasar pangan Indonesia yang sangat besar itu dimanfaatkan  sampai susu, buah-buahan, dan sayur-mayur. Intinya, permasalahan pokok industri pertanian dan pangan Indonesia adalah peningkatan permintaan tidak bisa diimbangi oleh peningkatan produksi dalam negeri.

Selain itu, banyak permasalahan lahan pertanian yang dihadapi Indonesia. Pertama, banyak lahan pertanian yang dikonversi menjadi lahan nonpertanian. Contohnya, di seluruh Indonesia tidak kurang dari 100.000 hektare lahan pertanian yang berubah fungsi menjadi nonpertanian setiap tahunnya,baik untuk real estate, industrial estate, jalan tol, jalan maupun irigasi. Ini memang dilema, karena memang semua itu diperlukan Indonesia saat ini. Dan, ironisnya, hal itu justru terjadi di daerah-daerah yang subur, seperti karawang, pasar Minggu dan Depok. Rata-rata hampir seluruh kota besar meluas karena pertambahan penduduk dan urbanisasi. Dulu, kota-kota berada di tengah hamparan sawah yang luas, maka pengurangan lahan pertanian menjadi sangat besar. Perlu dicatat, konversi tersebut diperlukan juga karena pertumbuhan penduduk membutuhkan pembangunan permukiman dan infrastruktur.

Kedua, tanah usaha milik petani jumlahnya terus menurun. Dari data sensus pertanian terakhir di tahun 2003, rata-rata luas kepemilikan lahan petani hanya 0,7 ha. Padahal, di tahun 1983 masih 0,89 ha. Di Jawa lebih kecil lagi, pada tahun 2003, rata-rata petani hanya memiliki 0,3 ha, padahal di tahun 1983 masih 0,58 ha. Dengan lahan usaha yang semakin menyempit, penghasilan petani terus berkurang. Tak mengherankan, kalangan petani menyumbang 60% angka kemiskinan di Indonesia.

Keadaannya berbanding terbalik dengan negara-negara di Eropa,AS, dan Brasil, yang setiap tahun lahan pertaniannya meluas, sehingga mekanisasi pertanian bisa dilakukan, seperti dengan penggunaan traktor. Di Indonesia mekanisasi tidak optimal karena lahan pertanian terus menyusut. Akibat mekanisasi yang tidak berjalan optimal, biaya produksi relatif tinggi. Masalah sengketa lahan pertanian terjadi di semua tempat, terutama di Sumatera dan Jawa. Jumlah sengketa yang dapat diselesaikan lebih sedikit daripada jumlah sengketa baru yang muncul.

Persoalan sengketa lahan yang menumpuk menimbulkan ketegangan-ketegangan sosial yang mengancam negara. Banyak negara yang mengalami pergolakan sosial dan berujung revolusi karena persoalan tanah. Persoalan tanah menjadi lebih kompleks ketika banyak petani menjual tanahnya kepada pengusaha-pengusaha besar. Ketegangan sosial terjadi karena adanya ketimpangan kepemilikan lahan pertanian di Indonesia. Ironisnya, pemerintah pun turut memberikan lahan pertanian yang besar kepada pengusaha. Maka, kami mendesak untuk segera diadakan reformasi agraria, sehingga petani bisa mendapatkan kemudahan seperti pemberian lahan milik pemerintah.

Kunci untuk meraih ketahanan pangan, kemandirian pangan, dan kedaulatan pangan nasional adalah peningkatan produksi pangan dalam negeri. Ini bisa dilakukan dengan membuka area-area pertanian baru dan memperluas kepemilikan lahan milik petani. Semua negara yang industri pertaniannya sukses memiliki lahan pertanian yang luas. Tentunya, intensif harga bagi petani sangat relevan, karena pendorong utama peningkatan produksi pertanian adalah kebijakan harga, bukan kebijakan yang lain. Jika harga menguntungkan petani, pasti mereka terpacu. Salah satu penyebab jatuhnya harga produk petani adalah kondisi surplus produk pertanian berumur lama dan berharga murah yang datang dari luar negeri yang dibiarkan oleh pemerintah selama bertahun-tahun. Sebutannya adalah residual trading.

Selain itu, kuliner juga perlu dikembangkan, yang disesuaikan dengan komoditas pertanian dalam negeri. Misalnya di Meksiko, rakyatnya suka makan roti, tetapi Meksiko tidak memproduksi gandum, tetapi memproduksi jagung. Maka, dibuatlah tortilla yang berbahan dasar jagung.

Saya dan rekan-rekan tengah mempersiapkan dan mematangkan dua Undang-Undang (UU), yaitu UU Pangan dan UU Holtikultura. Pembuatan dua UU ini berlandaskan semangat pembangunan kemandirian pangan dan upaya peningkatan produksi hasil pertanian. Masih ada dua UU lagi yang akan menyusul, yaitu UU perlindungan dan Pemberdayaan Petani serta UU peternakan dan Kesehatan Hewan.

Pengusaha Indonesia perlu mendukung  modernisasi pertanian Indonesia. Kesuksesan industri karet dan kelapa sawit terjadi karena adanya sinergi antara petani, BUMN, dan pengusaha swasta. Sinergi ini memicu efisiensi produksi pada pertanian, tetapi sayangnya dalam konteks hltikultura lokal sinergi ini belum terbentuk.

Sementara itu, negara perlu mensponsori perluasan lahan pertanian seperti yang dilakukan Belanda. Sebagai contoh, sebelum Perang Dunia II rata-rata petani Belanda memiliki 12 ha. Saat ini satu petani di Belanda memiliki 80 ha. Jika lahan pertanian luas dan mekanisasi pertanian optimal,petani pun makmur. Karena mayoritas masyarakat Indonesia berprofesi sebagai petani, jika petani makmur, mereka dapat membuat dunia industri semakin menggeliat dan Indonesia akan semakin makmur. Selain itu, pemerintah perlu mengatur agar harga produk pertanian menguntungkan petani, dengan cara menetapkan tarif tinggi kepada produsen luar negeri yang melakukan residual trading ke Indonesia.

Tugas negara adalah mengatur harga komoditas pangan dalam negeri agar menguntungkan pelakunya. Mekanismenya melalui bea masuk. Secara makro, pemerintah perlu memainkan instrumen penunjang ekonomi negara seperti fiskal, moneter, dan administratif dengan baik. Negara pun perlu mendidik pola dan karakter makan orang Indonesia. Jadi, masyarakat diarahkan untuk mengonsumsi makanan yang berbahan dasar hasil produksi pertanian lokal, sehingga tidak beralih ke makanan yang berbahan dasar hasil produksi pertanian luar negeri.

Contoh paling ideal adalah Taiwan. Meskipun lahan pertanian mereka tidak luas, land reform di sana berhasil. Dibanding Jepang yang perekonomiannya ditopang oleh sekelompok perusahaan besar, iklim persaingan bisnis di Taiwan cenderung lebih merata. Jika Anda membeli saus tomat di Taiwan ,mereknya relatif tidak terkenal, tetapi saus tersebut diproduksi oleh petani lokal, sehingga produk tersebut mendapatkan added value. Jai, petani Taiwan tidak lagi menjual tomat mentah, tetapi sudah berupa saus tomat dalam botol. Bandingkan produksi saus tomat di AS yang didominasi merek-merek seperti Heinz dan Delmonte.

Contoh lainnya adalah Brasil, karena mereka sukses melakukan modernisasi yang sesuai dengan kondisi alamnya yang bersifat tropis. Desain pertanian Indonesia masih warisan dari Belanda, yang menyebabkan ongkos produksi menjadi tinggi. Di Brasil, perkebunan dan pabrik karet, tebu, dan singkong berada di sepanjang sungai Amazon, sehingga hasil panen dapat didistribusikan ke mancanegara. Jadi, Brasil merupakan benchmark dalam membangun efisiensi dan daya saing.

Thailand juga dapat dijadikan contoh untuk pengembangan riset dan tekonologi pertanian. Ada branding seperti pepaya bangkok dan durian bangkok karena riset pertanian yang hebat. Kualitas hasil pertanian cenderung homogen, sehingga yang tidak sesuai standar akan dibuang.

 

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR BUAH

Tahun

Ekspor

Impor

Nilai US ($)

Volume (Ton)

Nilai US ($)

Volume (Ton)

2011

241.582.615

223.011

856.239.577

832.080

2010

173.107.906

196.341

685.895.982

692.703

2009

164.289.110

224.332

625.246.968

640.667

2008

234.767.325

323.844

473.834.471

502.07

Sumber : Kementrian Pertanian RI

 

VOLUME DAN NILAI EKSPOR-IMPOR BERAS, 2008-2012

Tahun

Impor

Ekspor

Berat Bersih (Ton)

Nilai (ribu US $)

Berat Bersih (Ton)

Nilai (ribu US $)

2012*

1.443.886,3

780.572,2

1.032,8

1.242,0

2011

2.750.476,2

1.513.163,5

1.062,0

1.218,2

2010

687.581,5

360.785,0

Tad

Tad

2009

250.473,1

108.153,3

Tad

Tad

2008

289.689,4

124.142,8

865

858

Sumber : Badan Pusat Statistik, Pusdatin Kementan

Ket: (*) hingga November 2012

 

VOLUME DAN NILAI IMPOR DAGING, 2010-2012

Tahun

Impor

Produksi (Ribu Ton)

Volume (Ton)

Nilai (US$)

2012*

26.348,2

103.195.804

2.690,99**

2011

104.828,3

331.031.314

2.554,2

2010

141.875,8

402.444.147

2.366,2

Sumber : Kementrian Pertanian RI

Keterangan :

– (*)hingga juni 2012

– (**) angka sementara

– yang termasuk daging yaitu : sapi, kambing/domba, kuda, unggas dan lain-lain.

 

 

 

 

 

PRODUKSI PADI INDONESIA, 2010-2012

Tahun

Produksi (Ton)

2014

76.567.718

2013

72.063.785

2012

68.956.292*

2011

65.756.904

2010

66.469.394

Sumber : Kementrian Pertanian

Keterangan :

– (*) angka perkiraan

-Produksi tahun 2013 dan 2014 merupakan angka proyeksi.

 

 SUMBER: http://josephinejoe.wordpress.com/2013/04/24/kuncinya-adalah-peningkatan-produksi-pangan-dalam-negeri/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s